KEUNIKAN TENUN RAGI WO’I KHAS NAGEKEO DAERAH NUSA TENGGARA TIMUR
KEUNIKAN TENUN RAGI WO’I
KHAS NAGEKEO DAERAH NUSA TENGGARA TIMUR
ARTIKEL PENELITIAN
Diajukan Kepada Akademi Pelayaran Nasional Surakarta Untuk Memenuhi
Sebagian Persyaratan Akhir Semester
Mata kuliah Bahasa Indonesia
Disusun oleh :
YUNITA ANGGELIA SUWO SARA
NIT : 202312017
PROGRAM STUDI
MANAJEMEN LOGISTIK
AKADEMI PELAYARAN NASIONAL
SURAKARTA
2023
KATA PENGANTAR
Puji dan Syukur Penulis haturkan kehadirat Tuhan yang maha esa yang
telah melimpahkan rahmatnya sehingga penulis bisa menyelesaikan tulisan
berjudul " Ragi Wo'i Tenunan
Kabupaten Nagekeo di daerah Nusa Tenggara Timur.
Perkenalkan penulis bernama Yunita Anggelia
Suwo Sara dari program studi Manajemen Logistik, Semester I Akademi Pelayaran
Nasional Surakarta, Penulis lahir di Fataleke, 01 Juni 2005.
Penulis adalah seorang Taruni tingkat satu
Akademi Pelayaran Nasional Surakarta, dan berasal dari Nagekeo , Flores , Nusa
Tenggara Timur.
Sesuai dengan judul penulis ingin
mempromosikan kekhasan dari daerah Negekeo , yaitu Kain tenun adat yaitu Ragi Wo'i .
Ragi Wo'i merupakan kain tenun ikat yang dibuat dengan
ikatan tali pada benang kemudian dicelup dalam campuran warna sebelum ditenun.
Tenunan ini berasal dari wilayah sekitar Boawae.
Penulis berharap semoga dengan membaca
makalah ini pembaca bisa mengenal lebih kekhasan dari daerah Nagekeo terlebih
khusus Tenun ikat nagekeo. Pembaca bisa mencarinya di YouTube atau mungkin
lebih baik lagi bisa mengunjungi daerah Nagekeo. Jika ingin berkunjung ke
Nagekeo Penulis bisa siap menjadi penunjuk jalan.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan karya
tulis ini masih jauh dari sempurna serta kesalahan yang penulis yakini di luar
batas kemampuan penulis. Maka dari itu penulis dengan senang hati menerima
kritik dan saran yang membangun dari para pembaca. Penulis berharap karya tulis
ini dapat bermanfaat bagi semua pihak.
Kartasura, Oktober 2023
Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN
JUDUL..............................................................................................................I
KATAPENGANTAR............................................................................................................II
DAFTARISI................................................................................................,........................III
BAB I PENDAHULUAN
1.1 LatarBelakang..............................................................,...............................................1
1.2 Identifikasi Masalah
...................................,.......,.......................................................1
1. 3 Batasan
Masalah.....................................................................................,.................1
1.4. Rumusan Masalah
....................................................................................................2
1.5 Tujuan
Penelitian........................................................................................................2
1.6 Manfaat
penelitian.....................................................................................................2
BAB II LANDASAN TEORI
2.1 Kajian Teori
................................................................................................................3
2.2 Penelitian
Terdahulu...................................................................................................3
2.3 Kerangka
Pemikiran...................................................................................................4
BAB III METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian..........................................................................................................5
3.2. Seting
penelitian........................................................................................................5
3.2.1 Lokasi penelitian
....................................................................................................5
3.2.2 Waktu Penelitian ...................................................................................................5
3.3 Subyek dan informasi
penelitian..............................................................................5
3.4 Teknik Pengumpulan Data ......................................................................................6
3.5 Teknik Keabsahan Data
..........................................................................................6
3.6 Teknik Analisis Data.................................................................................................7
BAB IV PEMBAHASAN
4.1 Kerajinan Tenun dalam Masyarakat
Nagekeo.........................................................8
4.2 Tahap-Tahap Pembuatan Kain tenun ikat
Nagekeo ...............................................8
BAB V PENUTUP
5.1
Kesimpulan..................................................................................................................10
5.2 Saran
...........................................................................................................................10
DAFTAR
PUSTAKA............................................................................................................11
LAMPIRAN........................................................................................................................
12
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kabupaten Nagekeo adalah salah satu kabupaten di Nusa Tenggara Timur
, Indonesia yang memiliki kekayaan yang
beragam , termasuk dalam kain tradisional yang dikenal di kabupaten Nagekeo
adalah kain tenun ikat . Motif kain tenun ikat sangat beragam motif tersebut
terinspirasi dari alam serta budaya setempat. Masyarakat nagekeo biasa
menyebutnya Ragi Wo’i
Kain Nagekeo secara khusus digunakan dalam berbagai upacar adat di
kabupaten Nagekeo . Kain tenun Nagekeo tampil memukau di Herborit Bali fashion
carnaval tampil sebagai bagian dari peragam busana bergengsi , diselenggarakan
di Bali Sesret Garden Village Bedugai yang di laksanakan pada Minggu, 17 Juli
2022 , rancangan busana oleh Joko SSP .
Penulis melalui artikel ini akan menguraikan keindahan tenun Ragi wo’i berdasarkan pengelaman dan
sebagai tugas mata kuliah Bahasa indonesia. Penulis juga membuat artikel ini
guna mengenalkan tenun ikat dari daerah
kabupaten Nagekeo agar bisa menarik minat pengunjung untuk membeli
produk tenun ikat dari daerah nagekeo.
1.2 Identifikasi Masalah
1.
Kurangnya fasilitas dan pemilihan produksi kain tenun ikat mambuat warga
kabupaten Nagekeo tidak punya pekerjaan.
2.
Kain tenun dibuat sangat lama , bisa sampai berbulan bulan , maka dari itu
harganya pun di buat sangat tinggi, bahkan bisa mencapai jutaan .
1.3 Pembatasan Masalah
Upaya yang dimaksud dalam hal ini adalah pemuda mengambil peran sebagai fasilitator untuk mendapatkan motif baru tenun ikat, dalam upaya melindungi tenun ikat sebagai kekayaan intelektual tradisional.
1.4 Rumusan Masalah
1. 1. Apa itu kerajinan tenun dalam
masyarakat Nagekeo ?
2. 2. Bagaimana tahap - tahap pembuatan kain tenun ikat Nagekeo ?
1.5 Tujuan
1. Mengetahui secara lebih dalam mengenai kerajinan tenun ikat Nagekeo
2. Mengetahui cara pembuatan kain tenun ikat Nagekeo
1.6 Manfaat penelitian
Peneliti : Dapat membantu peneliti memahami lebih dalam
tentang teknik, sejarah dan budaya tenun di berbagai daerah dan menghasilkan
inovasi dalam teknik pembuatan kain tenun , seperti penggunaan bahan yang lebih
ramah lingkungan atau efesiensi produktif .
Pembaca : Peningkatan kesadaran budaya : pembaca dapat memahami
lebih dalam tentang seni dan budaya dibalik kain tenun dari berbagai daerah dan
pembaca dapat mengembangkan apresiasi
terhadap seni tenun dan warisan budaya terkait.
Masyarakat : penelitian ini dapat mendukung industri kain tenun lokal , menciptakan
peluang kerja dan meningkatkan pendapatan masyarakat
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Kajian Teori
Peneliti
akan meneliti beberapa kajian teori tentang upaya pelestarian seni budaya ,
berikut adalah beberapa teori yang peneliti temukan yaitu :
Widati ( 2002 : 135 ) dan poerwadarmita ( 1989: 32 ) mengartikan tenun
sebagai hasil kerajinan berupa kain dari bahan yang dibuat benang ( kapas,
sutera, dan sebagainya) dengan cara memasukan bahan secara melintang pada Lusi.
Penulis menceritakan tentang penelitian oleh widati dan poerwadarmita bahwa
kain tenun sendiri memiliki corak atau ciri khas yang unik dan beragam yang
berbeda beda disetiap daerahnya .
Menurut KBBI ( 2022: 1176) tenun merupakan kerajinan berupa bahan (
kain. ) yang dibuat dari benang ( kapas , sutera , dan sebagainya) dengan cara
memasukan oelkan secara melintang pada lungsing ( alat perkakas) .
Menurut Setiawati ( 2007: 9) menenun adalah seni kerajinan tekstil kuno
dengan menempatkan dua set benang rajutan yang disebut kunsi dan pakan di alat
tenun untuk diubah menjadi kain .
Dari beberapa teori yang
ditemukan peneliti akan menjelaskan tentang kain tenun adat Nagekeo , NTT.
2.2 Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu
yang peneliti temukan dari beberapa situs tentang tenun ikat adalah sbb:
Penelitian pertama dilakukan oleh G. P. Rouffaen , sekitar tahun 1900
melakukan penelitian tentang kain tenun . Tujuan dari penelitian ini
Mempelajari sejarah dan perkembangan kain tenun GP Rouffaer untuk mengungkap
asal mula usulnya dan bagaimana seni ini telah berkembang seiring berjalannya
waktu.
Penelitian kedua dilakukan oleh surdana sekitar Tahun 2011 melakukan
penelitian tentang Analisis pengembangan produk kerajinan kain tenun ikat di
desa Rembitan Kab. Lombok Tengah dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana
perkembangan produk yang ada di desa Rembitan dan bagaiman strategi
mengembangkannya.
Penelitian ketiga dilakukan oleh wijanan Tahun 2017 tentang tenun endek
nastuki di desa kalinget , kec , Ringgit . Tujuan dari penelitian ini untuk
mendeskripsikan pengembangan motif kain, tenun endek Kolo.
2.3 Kerangka Berpikir
![]() |
Diagram 2.3 Kerangka Berpikir Penulis |
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis penelitian
Metode penelitian adalah cara ilmiah untuk mendapatkan data yang valid
dengan tujuan dapat ditemukan, dibuktikan, dikembangkan suatu pengetahuan
tertentu sehingga pada gilirannya dapat digunakan untuk memahami, memecahkan
dan mengantisipasi masalah
Dalam penelitian ini pendekatan yang
digunakan adalah metode pendekatan kualitatif lapangan atau kancah (field
research), yaitu penelitian yang mengumpulkan datanya dilakukan di lapangan
karena dengan menggunakan pendekatan ini bertujuan untuk mencocokkan antara
realita empirik dengan teori yang berlaku dengan mengunakan metode deskriptif.
3.2 Setting
penelitian
1. Tempat Penelitian
Peneliti melakukan penelitian Untuk memperoleh data yang akurat dan terpercaya, penelitian ini
dilakukan oleh penulis di desa Ngeghedhawe, kecamatan Aesesa, kabupaten Nagekeo
2. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan oleh peneliti pada tanggal 14 februari 2023 . Penelitian
dilakukan setelah penentuan judul .
3.3 Subyek dan informasi penelitian
Dalam penelitian kualitatif, yang dimaksud subjek penelitian adalah
informan yang memberikan data penelitian melalui suatu wawancara. Informan
dalam penelitian ini adalah penenun kain Adat
Nagekeo yang mampu menjelaskan tentang
kerajinan tenun ikat Nagekeo dan
tahap - tahap pembuatan tenun
ikat. Penelitian kualitatif merupakan suatu istilah responden atau subjek
penelitian disebut dengan istilah informan, yaitu orang yang memberikan
informasi tentang data yang diinginkan penelitian berkaitan dengan penelitian
yang sedang dilaksanakan.
Yang menjadi subjek dalam hal ini adalah Dari
desa Ngeghedhawe, dimana tempat pembuatan tenun ikat di kabupaten Nagekeo .
3.4 Teknik pengumpulan data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini ada dua yaitu :
1. Data primer
Yaitu data yang bersumber atau yang di
peroleh dari informasi berdasarkan hasil wawancara dan observasi seperti
pembuatan tenun ikat , motif tenun ikat dan upaya pelestarian tenun ikat
kabupaten Nagekeo.
2. Data sekunder
Yaitu data yang diperoleh dari jurnal -
jurnal serta beberapa refrensi dari perpustakaan serta dokumen dan observasi
yang diperoleh di lokasi penelitian.
3.5 Teknik keabsahan data
Dalam
penelitian pemeriksaan keabsahan data sangat diperlukan dalam penelitian
kualitatif demi keaslian dan kendalan serta tingkat kepercayaan data yang telah
terkumpul. Teknik keabsahan data adalah dengan menggunakan teknik triangulasi.
Hal ini merupakan salah satu pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu
yang lain diluar data untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding
terhadap data.(Moleong, 2006:330).
Dengan
menggunakan teknik pemeriksaan triangulasi sumber, peneliti mengumpulkan data
dengan wawancara yang dilakukan terhadap
penenun Kain adat dan masyarakat
setempat di desa Ngeghedhawe ,kecamatan Aesesa ,kabupaten Nagekeo .
3.6 Teknik Analisis Data
Penelitian
ini adalah penelitian deskriptif, dengan lebih banyak bersifat uraian dari
hasil wawancara dan studi dokumentasi, data yang telah diperoleh akan
dianalisis secara kualitatif serta diuraikan dalam bentuk deskriptif. Analisis
data adalah proses mengatur urutan data, mengorganisasikannya ke dalam suatu
pola, kategori dan uraian dasar (Moleong, 2001:103). Prinsip pokok penelitian kualitatif
adalah menemukan teori dari data.Teknik analisa data yang digunakan dalam
penelitian ini adalah menggunakan langkah-langkah seperti yang dikemukakan oleh
(Burhan Bugin, 2003:70) sebagai berikut:
1. 1. Reduksi Data
Reduksi data adalah merangkum, memilih hal-hal yang pokok memfokuskan hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya dan membuang yang tidak perlu (Sugiyono,2010:338). Dalam penelitian ini peneliti memfokuskan pada penelitian tenun ikat di desa Ngeghedhawe kecamatan Aesesa. Kabupaten Nagekeo.
2. 2. Penyajian Data
Setelah
data direduksi, maka langkah selanjutnya adalah mendisplaikan data. Data
penelitian kualitatif penyajian data bisa dilakukan dalam bentuk singkat,
bagan, hubungan antar kategori, dan dengan teks yang bersifat naratif. Dengan
mendisplaikan data akan memudahkan untuk memahami apa yang terjadi dan
merencanakan kerja selanjutnya berdasarkan apa yang telah dipahami tersebut
(Sugiyono,2010:338). Dalam tahap ini, peneliti menyajikan data dalam bentuk
teks naratif agar mudah dipahami, sehingga memudahkan dalam penarikan
kesimpulan.
3. 3. Penarikan Kesimpulan
Kesimpulan dalam
penelitian kualitatif yang diharapkan adalah temuan baru yang sebelumya belum
pernah ada atau berupa gambaran suatu objek yang sebelumya masih remang-remang
atau gelap sehingga setelah diteliti menjadi jelas. Kesimpulan ini masih sebagai hipotesis, dan
dapat menjadi teori jika didukung oleh data-data yang lain (Sugiyono,
2010:345).
BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 Apa itu kerajinan tangan dalam
masyarakat Nagekeo
Kerajinan tenun dalam masyarakat Nagekeo adalah proses pembuatan kain
tenun yang merupakan bagian penting dari budaya dan tradisi masyarakat di
daerah tersebut. Tenun Nagekeo seringkali memiliki desain dan motif khas yang
mewakili warisan budaya dan sejarah mereka. Kerajinan tenun ini umumnya
dilakukan oleh perempuan, dan prosesnya melibatkan pemilihan benang, pewarnaan,
serta teknik penyediaan yang rumit. Kain tenun hasil kerajinan ini digunakan
untuk berbagai keperluan, seperti pakaian adat, selendang, dan hiasan dinding,
serta sering dihargai sebagai karya seni yang indah.
4.2 Tahap- tahap pembuatan kain tenun Nagekeo
Pembuatan kain tenun Nagekeo, seperti kain
tradisional lainnya, melibatkan beberapa tahapan yang kompleks. Berikut adalah
tahap-tahap umum dalam pembuatan kain tenun Nagekeo:sering kali memiliki makna
budaya yang dalam dan dihargai sebagai warisan tradisional. tahap umum
pembuatan Kain Ragi :
1. Persiapan Benang : Pertama, benang utama
(biasanya katun) akan dipersiapkan. Benang
ini akan diwarnai dengan motif-motif tradisional khas Nagekeo.
2.
Pemberian Pola Motif : Pola motif kain Ragi Nagekeo akan diterapkan pada
benang dengan menggunakan teknik tenun ikat. Tenun ikat adalah teknik tenun
khas yang melibatkan pengikatan sebagian benang sebelum proses pewarnaan.
3.
Pewarnaan : Setelah benang-benang diikat sesuai dengan pola motif yang
diinginkan, benang-benang tersebut akan dicelupkan ke dalam pewarna alami yang
berasal dari tumbuhan, seperti daun indigo dan akar tingi, untuk memberikan
warna yang khas.
4. Tenun Kain : Setelah proses pewarnaan,
benang-benang yang telah diwarnai akan digunakan untuk memasok kain. Tenun dilakukan dengan menggunakan alat tenun tradisional.
5.
Proses Pengeringan dan Penyelesaian : Setelah kain selesai ditenun, kain
Ragi Nagekeo akan dijemur hingga kering. Setelah kering, kain akan diberi
perlakuan khusus agar lebih kuat dan tahan lama.
6.
Pemeriksaan Kualitas : Sebelum dijual, kain Ragi Nagekeo akan diperiksa
untuk memastikan kualitasnya sesuai dengan standar.
7.
Penyebaran : Kain Ragi Nagekeo siap untuk diedarkan dan dijual di pasar
lokal maupun internasional.
8.
Pembuatan kain Ragi Nagekeo adalah proses yang memakan waktu dan memerlukan
keterampilan tinggi dalam teknik tenun ikat serta pemilihan warna alami yang
sesuai dengan tradisi budaya Nagekeo.
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Kesimpulan dari tenun ikat Nagekeo adalah
bahwa tenun ikat ini adalah warisan budaya yang penting dari masyarakat
Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Tenun ikat Nagekeo merupakan bentuk
seni tekstil yang memadukan tradisi, motif, dan teknik yang khas. Kesenian ini
memiliki nilai budaya yang tinggi dan telah menjadi bagian penting dari
identitas masyarakat Nagekeo.
5.2 Saran
a) Pelestarian Budaya: Masyarakat dan pemerintah
harus berupaya melestarikan seni tenun ikat Nagekeo sebagai bagian dari warisan
budaya Indonesia. Hal ini dapat dilakukan
melalui pendanaan, pelatihan, dan promosi.
b)
Pendidikan: Mendorong pendidikan dan pelatihan terkait tenun ikat, baik
dalam hal teknik tenun, pembuatan motif, maupun sejarahnya, untuk mengembangkan
pengetahuan dan keterampilan para pengrajin.
c)
Pengembangan Pasar: Mendorong promosi dan pemasaran produk tenun ikat
Nagekeo di tingkat nasional dan internasional untuk meningkatkan peluang
ekonomi bagi para pengrajin
d)
Keberlanjutan: menolak penggunaan bahan-bahan alami yang berkelanjutan
dalam proses tenun ikat demi menjaga lingkungan dan ekosistem.
e)
Kreativitas: Mendorong pengrajin untuk mengembangkan inovasi desain dan
motif tenun ikat untuk menjaga keingintahuan seni ini.
DAFTAR PUSTAKA
Widati.(2002).Tenun sebagai hasil kerajinan.Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Muhammadiyah Makassar.
Setiawati.(2007).Menenun adalah kerajinan tekstil kuno.Fakultas Bahasa dan Seni.Universitas Negeri Yogyakarta.
Rouffaen, P.G.(1900).Meneliti tenun ikat pertama kali.Universitas Ciputra Surabaya.
Surdana.(2011).Pengembangan produk kerajinan.Fakultas Ilmu sosial dan Politik.Universitas Muhammadiyah Mataram.
Wijanna.(2017).Pengembangan motif kain.Pendidikan Seni Rupa.Universitas Pendidikan Ganesha.
LAMPIRAN
![]() |
Gambar 1.1 Motif Ragi |
![]() |
Gambar 1.2 Budaya Nagekeo |
Penulis :
Nama : YUNITA ANGGELIA SUWO SARA
NIT : 202312017
Program studi : Manajemen Logistik Angkatan 2023
Akademi Pelayaran Nasional Surakarta
Komentar
Posting Komentar