KEPULAUAN RAJA AMPAT

KEPULAUAN RAJA AMPAT

 

ARTIKEL PENELITIAN

 

Diajukan Kepada Akademi Pelayaran Nasional Surakarta Untuk Memenuhi Sebagian

Persyaratan Akhir Semester Mata Kuliah Bahasa Indonesia

 


 Disusun Oleh :

Lucky Amos.R.O.Satia

NIT: 202312012

 

PROGRAM STUDI

MANAJEMEN LOGISTIK

AKADEMIK PELAYARAN NASIONAL

SURAKARTA

2023

 


KATA PENGANTAR

 

Puja dan puji syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan yang Maha Esa atas limpah rahmat dan kasih karunianya sehingga makalah ini yang berjudul KEPULAUAN RAJA AMPAT dapat saya selesaikan dengan  baik dan tepat waktu.

Sebelumnya penulis ingin memperkenalkan diri penulis, nama penulis Lucky Amos.R.O.Satia, nomor induk taruna 202312012, penulis berasal dari Papua tepatnya dari Waropen.

Pada kesempatan kali ini, tidak lupa saya ucapkan terimaksih kepada ibu Fitri anekawati,S.Hum.,M.Li. selaku dosen pengampuh pada mata kuliah Bahasa Indonesia yang membimbing saya dalam pengerjaan tugas makalh ini.

Saya menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, baik dari segi sistematika maupun isinya. Oleh karena itu, saya mengharapkan kritik dan saran yang dari pembaca guna menyempurnakan makalah ini kedepannya, saya beharap makalah ini bermanfaat bagi kita semua.

 

               Kartasura,   Okteber 2023

 

 

Penulis



BAB 1

PENDAHULUAN

 

1.1  Latar Belakang

Terletak di ujung barat laut semananjung kepala burung di Papua, Provinsi Papua Barat, Indonesia. Kabupaten Raja Ampat adalah kepulauan yang yang terdiri dari lebih 1.846 pulau kecil, pulau utama Misool, Salawati, Batanta dan Waigeo. Kabupaten Raja Ampat merupakan Kabupaten baru yang terpisah dari Kabupaten Sorong pada tahun 2004.

Raja Ampat meliputi lebih dari dari 40.000 𝑘𝑚2 daratan dan laut. Sumber daya alam laut sekitar Raja Ampat menjadikannya sangat potensial sebagai kawasan wisata. Banyak sumber menempatkan Raja Ampat sebagai salah satu dari 10 tempat paling populer untuk menyelam, sekaligus mempertahankan peringkat nomor satu dalam hal keanekaragaman hayati bawah laut yang menarik untuk ditelusuri. Namun saat ini belum semua wilayah Raja Ampat menjadi objek wisata, hal ini dikarenakan luas wilayah dan aksesibilitas yang masih tergolong susah. Namun terdapat beberapa objek wisata yang sudah terekspose di daerah Waigeo dan Misool.

Saat ini masih banyak masyarakat yang belum mengetahui secara pasti letak posisi dan seni budaya apa saja yang ada di Kabupaten Raja Ampat. Dikarenakan letak geografis wilayah Raja Ampat yang jauh berada di Papua, Indonesia Timur, sehingga menjadi pertimbangan bagi beberapa orang untuk berwisata ke daerah ini, baik pengunjung lokal maupun asing.

 

1.2  Identifikasi Masalah

Papua memiliki sumber daya alam yang sangat berpotensi sebagai tempat wisata dan menjadi daya tarik bagi para wisatawan. Orang luar Papua ingin berkunjung ke sana tetapi masih banyak juga dari orang-orang tersebut yang memikirkan selain mengenai biaya, mereka juga memikirkan kondisi warga dan lingkungan disana yang selalu dicitrakan dengan ketertinggalan dari segala aspek. Dalam perancancangan city branding Kabupaten Raja Ampat ini, terdapat masalah-masalah yang akan dihadapi, yaitu:

a.      Pencitraan ketertinggalan di daerah Papua yang masih tertanam didalam pikiran orang-orang, dan hal tersebut berpengaruh pada minat dalam berwisata ke daerah papua.

b.      Belum adanya identitas dan stratetegi komunikasi visual dalam mempromosikan pencitraan dari Kabupaten Raja Ampat dalam mengangkat potensi wisatanya.

c.      Selaing masalah keaman yang menjadi maslah adalah masalah telekomunikasi.untuk beberapa pulau terluar memang sulit untuk mendapat sinyal untuk komunikasi

d.      Masalah sampa juga terus menjadi permasalahan. Dinas setempat sudah melakukan kordinasi untuk menindak para pelaku pembuang sampa sembarang.

 

1.3  Pembatasan Masalah

a.     Batasan Permasalahan

Batasan permasalahan yang akan dibahas adalah penyampaian dalam pencitraan daerah Papua terkhusus Kabupaten Raja Ampat, demi meningkatkan pengunjung atau wisatawan dan turut serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat daerah setempat.

b.     Batasan Wilayah

Batasan wilayah yang akan menjadi pembahasan adalah Indonesia. Sampling responden diambil dari pulau Jawa sebagai pulau terpadat dan paling berkembang di Indonesia dan juga warga papua terkhusus warga Kabupaten Raja Ampat.

 

1.4   Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka permasalahan yang akan diteliti adalah bagaimana membangun suatu aplikasi teknologi informasi yang tidak hanya memberikan informasi tentang berbagai objek wisata di Raja Ampat tetapi juga memberikan kenyamanan bagi pengguna perangkat mobile dalam bentuk web yang responsive, sehingga dapat membantu masyarakat dalam pemenuhan kebutuhan informasi seluas-luasnya.

 

1.5  Tujuan Penelitian

Tujuan melakukan city branding kabupaten Raja Ampat adalah agar dapat meningkatkan minat bagi wisatawan terkhusus wisatawan domestik untuk berwisata ke kabupaten Raja Ampat dan juga untuk mengajak masyarakat setempat membantu mengembangkan dan menjaga potensi yang mereka miliki demi kesejahteraan masyarakat.

 

1.6   Manfaat penelitian

Diharapkan dapat memudahkan pengolahan data objek wisata atau proses entri atau manipulasi data yang berhubungan dengan objek wisata yang berada di Kabupaten Raja Ampat Diharapkan dapat mempermudah dalam hal mempermosikan informasi pariwisata secara lengkap seperti yang diinginkan oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Raja Ampat.


BAB II

LANDASAN TEORI

 

2.1 Kajian Teori

Peneliti akan meneliti beberapa bagian beberapa kajian teori tentang keunikan pulau raja ampat di papua barat. Berikut adalah beberapa teori yang peneliti temukan yaitu:

    Menurut (Luchman, 2004) wisata adalah salah satu penggerak perekonomian penting dalam suatu negara. Dapat simpulkan dari perngertian diatas bahwa pariwisata bertujuan memberikan hiburan ketika berkunjung ke objek wisata tersebut bagi para wisatawan.

     Menurut Andi Ritna lamakarate(2019) Penelitian ini mengkaji masalah pengembangan pariwisata di Kabupaten waisai dari aspek infrastruktur, peran pemerintah, pemasaran, dan promosi.Persamaan penelitian oleh AndiRitna Lamakarate  dengan penelitian ini adalah melihat kenyataan pengembangan pariwisata di lapangan serta peranan-peranan wisata dalam pengembangan tersebut.  Perbedaannya adalah penelitian oleh Andi Ritna Lamakarate meneliti kegiatan pariwisata di  Kabupaten waisai aspek infrastruktur untuk penyediaan fasilitas bagi wisatawan. Namun penelitian ini melihat peranan-perana obyek wisata dalam aspek peningkatan ekonominya

Menurut Center ( dalam Arimbi ) Mendefenisikan partisipasi sebagai proses komunikasi dua arah yang terus menerus dapat di artikan bahwa partisipasi Masyarakat merupakan komunikasi antara pihak pemerintah sebagai pemegang kebijakan tersebut. Dari pendapat Centre juga tersirat bahan masyarakat dapat memberikan respon positif dalam artian mendukung atau memberikan masukan terhadap program atau kebijakan yang diambil oleh pemerintah, namun dapat juga menolak kebijakan.

 

2.2 Kajian Hasil Penelitian

 Penelitian terdahulu adalah penelitian yang telah dilakukan oleh beberapa orang dan biasanya digunakan untuk dijadikan acuan atau perbandingan dengan penelitian yang akan penulis lakukan. Pada bagian ini peneliti akan mencatumkan beberapa penelitian satwa endemic.

Penelitian pertama yang ditulis oleh Mark Lubell (2016) yang berjudul “Network Governance for Invasive Management”. Studi kasus ISP memberikan wawasan tentang peran tata kelola jaringan dalam pengelolaan special invasive. Dalam kasus tata kelola jaringan pemerintah, ISP mewakili mode tata kelola jaringan yang berpusat pada serangkaian organisasi inti yang dikoordinasikan oleh California Coastal Conservancy (Lubell, Jasny, Hastings, & Lockwood, 2017).Penelitian ini juga mendapatkan kesimpulan bahwa menghubungkan dinamika ekologis ke tata kelola jaringan adalah kebijakan yang penting di masa depan. Dalam rangka mengembangkan pendekatan ekologis yang akan membantu mendiagnosis tata kelola jaringan yang tepat untuk berbagai jenis masalah konservasi. Masalah umum dari kebanyakan manajemen konservasi adalah terciptanya ketergantungan antar aktor dan pemangku kepentingan karena membutuhkan keputusan manajemen yang terkoordinasi.

Penelitian kedua berjudul, Partisipasi Masyarakat dalam Pengelolaan pulau raja ampat di Kabupaten waisai Provinsi papua barat yang ditulis oleh (sulaiman, 2011). Penelitian ini bertujuan utuk melihat bagaimana partisipasi masyarakat dalam langkah perencanaan dan pelaksanaan programene konservasi raja ampat, hasil dari survey yang dilakukan menunjukan bahwa partisipasi masyarakat masih terbilang rendah baik dalam kawasan ataupun di luar kawasan. Factor rendahnya partisipasi masyarakat disebabkan pada tahap peencanaan dan pelaksanaan program konservasi masyarakat baik nelayan maupun swasta kurang dilibatkan, sedangkan pengetahuan masyarakat tentang pulau raja ampat secara umum relatife sedang/cukup baik yakni 67,5% baik di dalam maupun luar Kawasan.

Penelitian ketiga ialah Dampak Kegiatan Wisata Alam bagi Masyarakat dalam Kawasan pulau raja ampat Provinsi papua barat yang ditulis oleh (Muthiah et al., 2015). Jurnal ini mengatakan bahwa di dalam kawasan pulau raja ampat ini terdapat masyarakat yang sudah cukup lama menetap dikawasan tersebut dan tidak sedikit juga yang bersinggungan dengan wisata alam, dalam pengelolaan wisata alam pasti mempunyai dampak, baik dampak positif maupun dampak negatif, bersadaerkan hasil pepenliian ini menunjukan sebagian masyarakat setuju dengan adanya kegiatan ekowisata di dalam PRA dan kenyataannya masyarakat menerima dengan baik wisatawan yang akan berkunjung. Mereka juga berinisiatif untuk menambah fasilitas-fasilitas seperti membangun guest house untuk wisatwan, akan tetapi belum memenuhi standar terutama fasilitas MCK.

 

2.3 Kerangka Berpikir

Kerangka berpikir ini bertujuan agar peneliti dapat menggambarkan alur kegiatan pada konsep Partisipasi Masyarakat terhadap pengembangan parawisata di Pulau raja ampat guna peningkatan kunjungan aktivitas para wisatawan mancanegara. Hal pertama yang perlu di perhatikan dalam pengembangan ini adalah bagaimana sistem pengelolaan wisata Pulau raja ampat terorganisir dengan baik melalui promosi dan marketing serta adanya sarana dan parsarana yang memadai di tempat objek wisata Pulau raja ampat,Kebijakan Pemerintah juga perlu dalam mengembangkan wisata Pulau raja ampat hal ini guna untuk meningkatkan kunjungan wisatawan dan juga menambah devisa daerah selain itu juga peran dari masyarakat juga perlu karna masyarakat juga adalah salah satu bagian yang harus ikut dan ada dalam hal pengembangan wisata Pulau raja ampat dengan melihat potensi dari wisata Pulau raja ampat kita dapat melihat apa yang perlu kita kembangkan dan dibenahi selanjutnya di objek wisata Pulau raja ampat guna meningkatkan kunjungan para wisatawan.


Gambar 2.3 Diargram kerangka berpikir



BAB III

METODE PENELITIAN

 

3.1  Jenis Penelitian

penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan berbentuk deskriptif. Dalam penelitian ini peneliti berusaha memaparkan atau memberikan gambaran secara detail dan sistematis tentang persepsi masyarakat yang ada di Pulau raja ampat terhadap ketersediaan sarana dan prasarana pariwisata di Pulau raja ampat.

        Raja ampat memiliki ukuran tubuh yang lebih besar dibandingkan dengan biawak lainnya. Menurut Verhallen (2006), panjang tubuh komodo dapat mencapai 3 meter dengan bobot lebih badan lebih dari 100 kg. Raja ampat dapat melihat hingga sejauh 300 m, namun tak begitu baik melihat di kegelapan malam karena retinanya hanya memiliki sel kerucut. Raja ampat mampu membedakan warna namun kurang mampu membedakan obyek yang tak bergerak.

 

3.2  Lokasi Penelitian

Penulis melakukan penelitian di Kabupaten raja ampat, Provinsi papua barat. Penulis melakukan penelitian selama kurang lebih 1 bulan. Penulis melakukan penelitian di desa Waisai. Penulis melakukan penelitian dengan cara langsung dan eksperimen.

 

3.3  Subjek Dan Informasi

Subyek penelitian adalah objek atau subjek yang menjadi fokus utama dari sebuah studi atau penelitian. Subyek penelitian dapat beragam tergantung pada jenis penelitian yang dilakukan. Informasi penelitian adalah data atau fakta yang ditemukan atau dikumpulkan selama proses penelitian. Informasi ini mencakup hasil penelitian, data eksperimental, laporan, analisis, dan temuan yang digunakan untuk mendukung tujuan penelitian. Informasi penelitian dapat bersifat kuantitatif atau kualitatif, dan merupakan dasar untuk membuat kesimpulan dan menyusun laporan penelitian.

Penulis akan memberikan informasi dalam penelitian ini tentang parawisata daerah waisai yaitu raja ampat. Penulis melakukan penelitian dengan arahan penulisan oleh pembimbing mata kuliah bahasa Indonesia. Penulis juga mencari sumber lain seperti wawancara dengan tokoh setempat, penduduk setempat, dan ketua parawisata papua barat.

 

3.4 Teknik Pengumpulan Data

Penulis menggunakan tiga jenis pengumpulan data dalam penelitian, yaitu sebagai berikut:

1.     1. Eksperimen

Eksperimen merupakan metode penelitian yang digunakan untuk menguji hipotesis atau menjawab pertanyaan penelitian dengan cara mengontrol dan memanipulasi satu atau lebih variabel independen.

2.     2. Merekam

Mereka merupakan proses untuk menghasilkan rekaman atau dokumentasi dari suara, gambar, data atau informasi tertentu.

3.     3. Menulis

Menulis merupakan metode yang melibatkan pengumpulan informasi atau data melalui penulisan untuk mendapatkan wawasan atau pemahaman yang lebih dalam tentang subjek penelitian.

 

3.5 Teknik keabsahan data

Keabsahan data adalah aspek penting dalam penelitian, karena data yang tidak valid dapat mengarah pada kesalahan dalam kesimpulan dan temuan penelitian. Teknik keabsahan data digunakan untuk memastikan bahwa data yang dikumpulkan akurat dan dapat dipercaya.

Adapun teknik yang digunakan penulis dalam menulis penelitian ini adalah teknik triangulasi. Teknik triangulasi adalah pendekatan penelitian yang melibatkan pengumpulan data dari berbagai sumber atau metode untuk memverifikasi temuan penelitian.

 

3.6 Teknik analisi data

Menurut Ahli George M. Marakas, teknik analisis data adalah suatu pendekatan sistematik untuk memeriksa, membersihkan, mengorganisasi, dan menginterpretasi data yang telah dikumpulkan dalam penelitian. Teknik analisis data ini membantu penulis untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian dan menghasilkan wawasan yang relevan dari data yang ada.

Dalam penulisan artikel penelitian ini menggunakan data model dari Miles & Huberman, antara lain:

1.     Pengumpulan Data

Data yang didapat dari hasil wawancara, observasi dan dokumentasi yang terdiri atas 2 bagian yaitu bagian deskriptif (catatan alami) dan bagian reflektif (catatan yang isinya kesan, pendapat, komentar serta tafsiran peneliti mengenai apa penemuan yang dijumpai). Selain itu merupakan  bahan rencana  pengumpulan data untuk tahap selanjutnya.

2.     Reduksi Data

Reduksi data merupakan analisis yang mengarahkan, menggolongkan, menajamkan dan membuang yang tidak penting serta mengorganisasikan data. Dengan begitu akan mempermudahkan penulis nantinya untuk menarik sebuah kesimpulan.

3.     Penyajian Data

Penyajian data bisa berbentuk tulisan, gambar, tabel maupun grafik. Tujuan penyajian data untuk menggabungkan informasi sehingga bisa memberikan gambaran terhadap keadaan yang terjadi, agar penulis  tidak mengalami kesulitan dalam penguasaan informasi secara baik dan menyeluruh.

4.     Penarikan Kesimpulan

Penarikan kesimpulan dilakukan selama penelitian berlangsung, mulai  dari awal penelitian. Awalnya kesimpulan yang diperoleh bersifat kabur dan diragukan namun dengan bertambahnya data, baik itu dari hasil observasi maupun wawancara, serta dari diperolehnya keseluruhan data hasil penelitian. Maka kesimpulan-kesimpulan tersebut harus diklarifikasikan dan diverifikasikan selama berlangsungya penelitian.

 


BAB IV

PEMBAHASAN


4.1  Pembahasan

 

Gambar 4.1 Pulau Raja ampat


a.      Raja Ampat Papua memang identik dengan laut jernihnya yang memantulkan birunya langit dengan sangat sempurna. Tak mengherankan, 89 persen dari wilayahnya memang didominasi oleh lautan sehingga bentang alam inilah yang menjadi daya tarik utama dari Raja Ampat.

b.     Bukan hanya itu, daerah yang sering dijuluki dengan “sepenggal surga yang jatuh ke bumi” ini pun dihuni oleh berbagai jenis flora dan fauna yang unik dan menambah pesonanya.

c.      Di Kepulauan Raja Ampat terdapat 186 varietas burung, 13 jenis reptil, 40 jenis amfibi, serta 32 jenis mamalia. Selain itu kekayaan flora di Raja Ampat juga tidak kalah mengagumkan, di sini Anda bisa menemukan 57 jenis bunga anggrek, 350 jenis pohon, dan 5 jenis kantong semar.

d.     Terdapat sejarah unik berkaitan dengan penamaan Raja Ampat. Dimana asal muasal nama ini konon berawal dari seorang wanita yang menemukan tujuh telur. Menurut mitos yang dipercaya masyarakat sekitar, dari tujuh telur tersebut, empat di antaranya menetas menjadi empat orang pangeran.

e.      Empat pangeran ini berpencar dan menjadi raja di masing-masing wilayah yaitu Salawati, Waigeo, Misool Barat, dan yang terakhir Misool Timur. Empat Raja inilah yang menjadi inspirasi penamaan Raja Ampat.

 

BAB V

PENUTUP


5.1 Kesimpulan

Raja Ampat merupakan kepulauan yang berada di Papua Barat dengan potensi wisata yang sangat memukau dari segi wisata baharinya. Raja Ampat memang sudah memiliki image di mata masyarakat Indonesia, tetapi tingkat wisatawan domestik yang mengunjungi Raja Ampat masih sangat kurang.

 Hal tersebut dipengaruhi oleh citra daerah Papua dimata orang luar Papua yang masih serba tertinggal dari segala aspek. Sementara, dari Pemerintah Daerah sendiri terus mengembangkan Kabupaten Raja Ampat dari sektor pariwisata dengan mulai membuka spot-spot baru untuk berwisata, mulai meningkatkan sarana prasaran pendukung dari transportasi dan fasilitas umum lainnya. Hal ini membuktikan bahwa pemerintah mulai meningkatkan kontribusi sektor pariwisata terhadap sektor ekonomi daerah maupun negara.

 Dari latar belakang tersebut, Raja Ampat membentuk identitas sebagai The Real Paradise dengan dasar pemahaman sebagai Last Paradise, untuk membangun citra yang baik dimata masyarakat Indonesia. Perancangan ini dilaksanakan melalui sarana media cetak dan diberatkan pada sarana internet, dikarenakan hasil survey menunjukkan bahwa target dengan umur 20-30 tahun masih merupakan pengguna aktif media internet dalam mencari informasi. Dari hal ini, dibuatlah media utama berupa mobile application yang berfungsi sebagai tour guide bagi target sasaran.

               Mobile application ini akan memberikan informasi yang dibutuhkan tentang Raja Ampat, dengan adanya mobile application ini target dapat mempersiapkan diri untuk berkunjung ke Raja Ampat. Perancangan ini menggunakan strategi promosi AISAS dengan menggunakan media yang disesuaikan dengan target. Oleh sebab itu, rancangan city branding ini mampu memunculkan citra positif dari Kabupaten Raja Ampat dan dapat meningkatkan minat wisatawan domestik untuk berkunjung ke Kabupaten Raja Ampat.

            Tidak hanya itu saja, dampak rancangan ini akan menjadi pelopor strategi komunikasi visual di daerah Papua. Rancangan ini akan menjadi contohbagi kota-kota lain di daerah Papua untuk meningkatkan kesejahteraan warganya melalui potensi daerahnya.

 

5.2 Saran

Saran yang diharapkan dapat terjadi pada perancangan city branding Kabupaten Raja Ampat ini antara lain :

a.      Diharapkan dukungan pemerintah setempat agar terwujudnya tujuan sesuai harapan.

b.     Dengan perancangan ini diharapkan juga tetap konsisten dalam menjaga citra daerah Papua.

c.      Tetap memaksimalkan atau mengembangkan SDM setempat agar dapat semakin mensejahterakan masyarakat setempat secara mandiri melalui potensi daerah yang dimiliki.

d.     Pengelolaan yang semakin baik agar dapat memberikan kenyamanan berwisata bagi para wisatawan baik domestik maupun internasional.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Admin Nasional, “Akses Jalan Menuju Wisata Mandeh Sumatera Barat Semakin Terbuka Lebar”, Arsip, (Pesisir Selatan: Kantor Wali Nagari Sungai Pinang, 2019). BPS. 2019. Kecamatan Koto XI Tarusan dalam angka 2018. Painan: BPS Pesisir Selatan. BPS. 2020. Kecamatan Koto XI Tarusan dalam Angka 2019. Tarusan: BPS Pesisir Selatan. BPS. 2020. “Profil Nagari Sungai Pinang tahun 2019”. Pemda Sumatera Barat. 2018. “Peraturan Daerah No 2 Tahun 2018 tentang Rencana Zonasi Wilayah Pesisirdan Pulau-Pulau Kecil Provinsi Sumatera Barat Tahun 2018-2038”. Pesisir Selatan: Arsip Kantor Bupati Pesisir Selatan.

Amri Marzali. 1997. Metode Etnografi. Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya. Bengen, D.G. 2010. Ekosistem dan Sumber Daya Pesisir dan Laut serta Pengelolaan secara terpadu dan berkelanjutan. Bogor: Pusat kajian Sumber Daya Pesisir dan Lautan Fpik IPB. Damanik, dkk. 2006. Perencanaan Ekowisata: Dari Teori ke Aplikasi. Yogyakarta: Pusat Studi Pariwisata dan Penerbit Andi. Gottschalk, Louis. 1986. Mengerti Sejarah, terjemahan, Nugroho Notosusanto. Jakarta: UI Press.



Penulis :

Nama : LUCKY AMOS. R. O. SATIA

NIT : 202312012

Program studi : Manajemen Logistik Angkatan 2023 

Akademi Pelayaran Nasional Surakarta

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KEUNIKAN DAN KEARIFAN DANAU SENTANI DI JAYAPURA

KEUNIKAN PULAU KOMODO DI LABUAN BAJO NUSA TENGGARA TIMUR

KEUNIKAN TENUN RAGI WO’I KHAS NAGEKEO DAERAH NUSA TENGGARA TIMUR

TARIAN INDAH KABUPATEN SIKKA, MAUMERE, NTT