KEPULAUAN RAJA AMPAT
KEPULAUAN
RAJA AMPAT
ARTIKEL
PENELITIAN
Diajukan Kepada Akademi Pelayaran Nasional Surakarta Untuk Memenuhi Sebagian
Persyaratan Akhir Semester Mata Kuliah Bahasa Indonesia
Disusun Oleh :
Lucky
Amos.R.O.Satia
NIT:
202312012
PROGRAM
STUDI
MANAJEMEN
LOGISTIK
AKADEMIK
PELAYARAN NASIONAL
SURAKARTA
2023
Puja dan puji syukur saya
panjatkan kehadirat Tuhan yang Maha Esa atas limpah rahmat dan kasih karunianya
sehingga makalah ini yang berjudul KEPULAUAN RAJA
AMPAT dapat saya selesaikan
dengan baik dan tepat waktu.
Sebelumnya penulis ingin memperkenalkan
diri penulis, nama penulis Lucky Amos.R.O.Satia,
nomor induk taruna 202312012, penulis berasal dari Papua tepatnya dari Waropen.
Pada kesempatan kali ini,
tidak lupa saya ucapkan terimaksih kepada ibu Fitri anekawati,S.Hum.,M.Li.
selaku dosen pengampuh pada mata kuliah Bahasa Indonesia yang membimbing saya
dalam pengerjaan tugas makalh ini.
Saya menyadari bahwa
makalah ini masih jauh dari sempurna, baik dari segi sistematika maupun isinya.
Oleh karena itu, saya mengharapkan kritik dan saran yang dari pembaca guna
menyempurnakan makalah ini kedepannya, saya beharap makalah ini bermanfaat bagi
kita semua.
Kartasura,
Okteber 2023
Penulis
Terletak
di ujung barat laut semananjung kepala burung di Papua, Provinsi Papua Barat,
Indonesia. Kabupaten Raja Ampat adalah kepulauan yang yang terdiri dari lebih
1.846 pulau kecil, pulau utama Misool, Salawati, Batanta dan Waigeo. Kabupaten
Raja Ampat merupakan Kabupaten baru yang terpisah dari Kabupaten Sorong pada
tahun 2004.
Raja
Ampat meliputi lebih dari dari 40.000 𝑘𝑚2 daratan dan
laut. Sumber daya alam laut sekitar Raja Ampat menjadikannya sangat potensial
sebagai kawasan wisata. Banyak sumber menempatkan Raja Ampat sebagai salah satu
dari 10 tempat paling populer untuk menyelam, sekaligus mempertahankan
peringkat nomor satu dalam hal keanekaragaman hayati bawah laut yang menarik
untuk ditelusuri. Namun saat ini belum semua wilayah Raja Ampat menjadi objek
wisata, hal ini dikarenakan luas wilayah dan aksesibilitas yang masih tergolong
susah. Namun terdapat beberapa objek wisata yang sudah terekspose di daerah
Waigeo dan Misool.
Saat
ini masih banyak masyarakat yang belum mengetahui secara pasti letak posisi dan
seni budaya apa saja yang ada di Kabupaten Raja Ampat. Dikarenakan letak
geografis wilayah Raja Ampat yang jauh berada di Papua, Indonesia Timur,
sehingga menjadi pertimbangan bagi beberapa orang untuk berwisata ke daerah
ini, baik pengunjung lokal maupun asing.
Papua
memiliki sumber daya alam yang sangat berpotensi sebagai tempat wisata dan
menjadi daya tarik bagi para wisatawan. Orang luar Papua ingin berkunjung ke
sana tetapi masih banyak juga dari orang-orang tersebut yang memikirkan selain
mengenai biaya, mereka juga memikirkan kondisi warga dan lingkungan disana yang
selalu dicitrakan dengan ketertinggalan dari segala aspek. Dalam perancancangan
city branding Kabupaten Raja Ampat ini, terdapat masalah-masalah yang akan
dihadapi, yaitu:
a. Pencitraan
ketertinggalan di daerah Papua yang masih tertanam didalam pikiran orang-orang,
dan hal tersebut berpengaruh pada minat dalam berwisata ke daerah papua.
b. Belum
adanya identitas dan stratetegi komunikasi visual dalam mempromosikan
pencitraan dari Kabupaten Raja Ampat dalam mengangkat potensi wisatanya.
c. Selaing
masalah keaman yang menjadi maslah adalah masalah telekomunikasi.untuk beberapa
pulau terluar memang sulit untuk mendapat sinyal untuk komunikasi
d. Masalah
sampa juga terus menjadi permasalahan. Dinas setempat sudah melakukan kordinasi
untuk menindak para pelaku pembuang sampa sembarang.
a. Batasan
Permasalahan
Batasan
permasalahan yang akan dibahas adalah penyampaian dalam pencitraan daerah Papua
terkhusus Kabupaten Raja Ampat, demi meningkatkan pengunjung atau wisatawan dan
turut serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat daerah setempat.
b. Batasan
Wilayah
Batasan
wilayah yang akan menjadi pembahasan adalah Indonesia. Sampling responden
diambil dari pulau Jawa sebagai pulau terpadat dan paling berkembang di
Indonesia dan juga warga papua terkhusus warga Kabupaten Raja Ampat.
1.4 Rumusan
Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka
permasalahan yang akan diteliti adalah bagaimana membangun suatu aplikasi
teknologi informasi yang tidak hanya memberikan informasi tentang berbagai
objek wisata di Raja Ampat tetapi juga memberikan kenyamanan bagi pengguna
perangkat mobile dalam bentuk web yang responsive, sehingga dapat membantu
masyarakat dalam pemenuhan kebutuhan informasi seluas-luasnya.
Tujuan melakukan city branding kabupaten
Raja Ampat adalah agar dapat meningkatkan minat bagi wisatawan terkhusus
wisatawan domestik untuk berwisata ke kabupaten Raja Ampat dan juga untuk
mengajak masyarakat setempat membantu mengembangkan dan menjaga potensi yang
mereka miliki demi kesejahteraan masyarakat.
Diharapkan dapat memudahkan pengolahan data objek wisata atau proses entri atau manipulasi data yang berhubungan dengan objek wisata yang berada di Kabupaten Raja Ampat Diharapkan dapat mempermudah dalam hal mempermosikan informasi pariwisata secara lengkap seperti yang diinginkan oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Raja Ampat.
Peneliti
akan meneliti beberapa bagian beberapa kajian teori tentang keunikan pulau raja
ampat di papua barat. Berikut adalah beberapa teori yang peneliti temukan
yaitu:
Menurut (Luchman, 2004) wisata adalah salah
satu penggerak perekonomian penting dalam suatu negara. Dapat simpulkan dari
perngertian diatas bahwa pariwisata bertujuan memberikan hiburan ketika
berkunjung ke objek wisata tersebut bagi para wisatawan.
Menurut Andi Ritna lamakarate(2019) Penelitian ini mengkaji masalah
pengembangan pariwisata di Kabupaten waisai dari aspek infrastruktur, peran
pemerintah, pemasaran, dan promosi.Persamaan penelitian oleh AndiRitna
Lamakarate dengan penelitian ini adalah
melihat kenyataan pengembangan pariwisata di lapangan serta peranan-peranan
wisata dalam pengembangan tersebut.
Perbedaannya adalah penelitian oleh Andi Ritna Lamakarate meneliti
kegiatan pariwisata di Kabupaten waisai
aspek infrastruktur untuk penyediaan fasilitas bagi wisatawan. Namun penelitian
ini melihat peranan-perana obyek wisata dalam aspek peningkatan ekonominya
Menurut Center ( dalam Arimbi )
Mendefenisikan partisipasi sebagai proses komunikasi dua arah yang terus
menerus dapat di artikan bahwa partisipasi Masyarakat merupakan komunikasi
antara pihak pemerintah sebagai pemegang kebijakan tersebut. Dari pendapat
Centre juga tersirat bahan masyarakat dapat memberikan respon positif dalam
artian mendukung atau memberikan masukan terhadap program atau kebijakan yang
diambil oleh pemerintah, namun dapat juga menolak kebijakan.
Penelitian terdahulu adalah penelitian yang
telah dilakukan oleh beberapa orang dan biasanya digunakan untuk dijadikan
acuan atau perbandingan dengan penelitian yang akan penulis lakukan. Pada
bagian ini peneliti akan mencatumkan beberapa penelitian satwa endemic.
Penelitian pertama yang ditulis oleh
Mark Lubell (2016) yang berjudul “Network Governance for Invasive Management”.
Studi kasus ISP memberikan wawasan tentang peran tata kelola jaringan dalam
pengelolaan special invasive. Dalam kasus tata kelola jaringan pemerintah, ISP
mewakili mode tata kelola jaringan yang berpusat pada serangkaian organisasi
inti yang dikoordinasikan oleh California Coastal Conservancy (Lubell, Jasny,
Hastings, & Lockwood, 2017).Penelitian ini juga mendapatkan kesimpulan bahwa
menghubungkan dinamika ekologis ke tata kelola jaringan adalah kebijakan yang
penting di masa depan. Dalam rangka mengembangkan pendekatan ekologis yang akan
membantu mendiagnosis tata kelola jaringan yang tepat untuk berbagai jenis
masalah konservasi. Masalah umum dari kebanyakan manajemen konservasi adalah
terciptanya ketergantungan antar aktor dan pemangku kepentingan karena
membutuhkan keputusan manajemen yang terkoordinasi.
Penelitian kedua berjudul,
Partisipasi Masyarakat dalam Pengelolaan pulau raja ampat di Kabupaten waisai
Provinsi papua barat yang ditulis oleh (sulaiman, 2011). Penelitian ini
bertujuan utuk melihat bagaimana partisipasi masyarakat dalam langkah
perencanaan dan pelaksanaan programene konservasi raja ampat, hasil dari survey
yang dilakukan menunjukan bahwa partisipasi masyarakat masih terbilang rendah
baik dalam kawasan ataupun di luar kawasan. Factor rendahnya partisipasi
masyarakat disebabkan pada tahap peencanaan dan pelaksanaan program konservasi
masyarakat baik nelayan maupun swasta kurang dilibatkan, sedangkan pengetahuan
masyarakat tentang pulau raja ampat secara umum relatife sedang/cukup baik
yakni 67,5% baik di dalam maupun luar Kawasan.
Penelitian ketiga ialah Dampak
Kegiatan Wisata Alam bagi Masyarakat dalam Kawasan pulau raja ampat Provinsi papua
barat yang ditulis oleh (Muthiah et al., 2015). Jurnal ini mengatakan bahwa di
dalam kawasan pulau raja ampat ini terdapat masyarakat yang sudah cukup lama
menetap dikawasan tersebut dan tidak sedikit juga yang bersinggungan dengan
wisata alam, dalam pengelolaan wisata alam pasti mempunyai dampak, baik dampak
positif maupun dampak negatif, bersadaerkan hasil pepenliian ini menunjukan
sebagian masyarakat setuju dengan adanya kegiatan ekowisata di dalam PRA dan
kenyataannya masyarakat menerima dengan baik wisatawan yang akan berkunjung.
Mereka juga berinisiatif untuk menambah fasilitas-fasilitas seperti membangun
guest house untuk wisatwan, akan tetapi belum memenuhi standar terutama
fasilitas MCK.
Kerangka
berpikir ini bertujuan agar peneliti dapat menggambarkan alur kegiatan pada
konsep Partisipasi Masyarakat terhadap pengembangan parawisata di Pulau raja
ampat guna peningkatan kunjungan aktivitas para wisatawan mancanegara. Hal
pertama yang perlu di perhatikan dalam pengembangan ini adalah bagaimana sistem
pengelolaan wisata Pulau raja ampat terorganisir dengan baik melalui promosi
dan marketing serta adanya sarana dan parsarana yang memadai di tempat objek
wisata Pulau raja ampat,Kebijakan Pemerintah juga perlu dalam mengembangkan
wisata Pulau raja ampat hal ini guna untuk meningkatkan kunjungan wisatawan dan
juga menambah devisa daerah selain itu juga peran dari masyarakat juga perlu
karna masyarakat juga adalah salah satu bagian yang harus ikut dan ada dalam
hal pengembangan wisata Pulau raja ampat dengan melihat potensi dari wisata
Pulau raja ampat kita dapat melihat apa yang perlu kita kembangkan dan dibenahi
selanjutnya di objek wisata Pulau raja ampat guna meningkatkan kunjungan para
wisatawan.
![]() |
| Gambar 2.3 Diargram kerangka berpikir |
penelitian
ini menggunakan metode kualitatif dan berbentuk deskriptif. Dalam penelitian
ini peneliti berusaha memaparkan atau memberikan gambaran secara detail dan
sistematis tentang persepsi masyarakat yang ada di Pulau raja ampat terhadap
ketersediaan sarana dan prasarana pariwisata di Pulau raja ampat.
Raja ampat memiliki ukuran tubuh yang
lebih besar dibandingkan dengan biawak lainnya. Menurut Verhallen (2006),
panjang tubuh komodo dapat mencapai 3 meter dengan bobot lebih badan lebih dari
100 kg. Raja ampat dapat melihat hingga sejauh 300 m, namun tak begitu baik
melihat di kegelapan malam karena retinanya hanya memiliki sel kerucut. Raja
ampat mampu membedakan warna namun kurang mampu membedakan obyek yang tak
bergerak.
Penulis melakukan penelitian di Kabupaten raja
ampat, Provinsi papua barat. Penulis melakukan penelitian selama kurang lebih 1
bulan. Penulis melakukan penelitian di desa Waisai. Penulis melakukan
penelitian dengan cara langsung dan eksperimen.
Subyek penelitian adalah objek atau subjek yang
menjadi fokus utama dari sebuah studi atau penelitian. Subyek penelitian dapat
beragam tergantung pada jenis penelitian yang dilakukan. Informasi penelitian
adalah data atau fakta yang ditemukan atau dikumpulkan selama proses
penelitian. Informasi ini mencakup hasil penelitian, data eksperimental,
laporan, analisis, dan temuan yang digunakan untuk mendukung tujuan penelitian.
Informasi penelitian dapat bersifat kuantitatif atau kualitatif, dan merupakan
dasar untuk membuat kesimpulan dan menyusun laporan penelitian.
Penulis akan memberikan informasi dalam
penelitian ini tentang parawisata daerah waisai yaitu raja ampat. Penulis
melakukan penelitian dengan arahan penulisan oleh pembimbing mata kuliah bahasa
Indonesia. Penulis juga mencari sumber lain seperti wawancara dengan tokoh
setempat, penduduk setempat, dan ketua parawisata papua barat.
Penulis menggunakan tiga jenis pengumpulan data
dalam penelitian, yaitu sebagai berikut:
1. 1. Eksperimen
Eksperimen merupakan metode penelitian yang digunakan untuk menguji
hipotesis atau menjawab pertanyaan penelitian dengan cara mengontrol dan
memanipulasi satu atau lebih variabel independen.
2. 2. Merekam
Mereka merupakan proses untuk menghasilkan rekaman atau dokumentasi
dari suara, gambar, data atau informasi tertentu.
3. 3. Menulis
Menulis merupakan metode yang melibatkan pengumpulan informasi atau
data melalui penulisan untuk mendapatkan wawasan atau pemahaman yang lebih
dalam tentang subjek penelitian.
Keabsahan data adalah aspek penting dalam
penelitian, karena data yang tidak valid dapat mengarah pada kesalahan dalam
kesimpulan dan temuan penelitian. Teknik keabsahan data digunakan untuk
memastikan bahwa data yang dikumpulkan akurat dan dapat dipercaya.
Adapun teknik yang digunakan penulis dalam menulis
penelitian ini adalah teknik triangulasi. Teknik triangulasi adalah pendekatan
penelitian yang melibatkan pengumpulan data dari berbagai sumber atau metode
untuk memverifikasi temuan penelitian.
Menurut
Ahli George M. Marakas, teknik analisis data adalah suatu pendekatan sistematik
untuk memeriksa, membersihkan, mengorganisasi, dan menginterpretasi data yang
telah dikumpulkan dalam penelitian. Teknik analisis data ini membantu penulis
untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian dan menghasilkan wawasan yang
relevan dari data yang ada.
Dalam
penulisan artikel penelitian ini menggunakan data model dari Miles &
Huberman, antara lain:
1. Pengumpulan Data
Data yang didapat dari hasil wawancara, observasi
dan dokumentasi yang terdiri atas 2 bagian yaitu bagian deskriptif (catatan
alami) dan bagian reflektif (catatan yang isinya kesan, pendapat, komentar
serta tafsiran peneliti mengenai apa penemuan yang dijumpai). Selain itu
merupakan bahan rencana pengumpulan data untuk tahap selanjutnya.
2. Reduksi Data
Reduksi data merupakan analisis yang
mengarahkan, menggolongkan, menajamkan dan membuang yang tidak penting serta
mengorganisasikan data. Dengan begitu akan mempermudahkan penulis nantinya
untuk menarik sebuah kesimpulan.
3. Penyajian Data
Penyajian data bisa berbentuk tulisan, gambar,
tabel maupun grafik. Tujuan penyajian data untuk menggabungkan informasi
sehingga bisa memberikan gambaran terhadap keadaan yang terjadi, agar
penulis tidak mengalami kesulitan dalam
penguasaan informasi secara baik dan menyeluruh.
4. Penarikan Kesimpulan
Penarikan kesimpulan dilakukan selama
penelitian berlangsung, mulai dari awal
penelitian. Awalnya kesimpulan yang diperoleh bersifat kabur dan diragukan
namun dengan bertambahnya data, baik itu dari hasil observasi maupun wawancara,
serta dari diperolehnya keseluruhan data hasil penelitian. Maka
kesimpulan-kesimpulan tersebut harus diklarifikasikan dan diverifikasikan
selama berlangsungya penelitian.
![]() |
| Gambar 4.1 Pulau Raja ampat |
a.
Raja
Ampat Papua memang identik dengan laut jernihnya yang memantulkan birunya
langit dengan sangat sempurna. Tak mengherankan, 89 persen dari wilayahnya
memang didominasi oleh lautan sehingga bentang alam inilah yang menjadi daya
tarik utama dari Raja Ampat.
b.
Bukan
hanya itu, daerah yang sering dijuluki dengan “sepenggal surga yang jatuh ke
bumi” ini pun dihuni oleh berbagai jenis flora dan fauna yang unik dan menambah
pesonanya.
c.
Di
Kepulauan Raja Ampat terdapat 186 varietas burung, 13 jenis reptil, 40 jenis
amfibi, serta 32 jenis mamalia. Selain itu kekayaan flora di Raja Ampat juga
tidak kalah mengagumkan, di sini Anda bisa menemukan 57 jenis bunga anggrek,
350 jenis pohon, dan 5 jenis kantong semar.
d.
Terdapat
sejarah unik berkaitan dengan penamaan Raja Ampat. Dimana asal muasal nama ini
konon berawal dari seorang wanita yang menemukan tujuh telur. Menurut mitos
yang dipercaya masyarakat sekitar, dari tujuh telur tersebut, empat di antaranya
menetas menjadi empat orang pangeran.
e.
Empat pangeran ini berpencar dan menjadi raja di
masing-masing wilayah yaitu Salawati, Waigeo, Misool Barat, dan yang terakhir
Misool Timur. Empat Raja inilah yang menjadi inspirasi penamaan Raja Ampat.
Raja Ampat merupakan kepulauan yang berada
di Papua Barat dengan potensi wisata yang sangat memukau dari segi wisata
baharinya. Raja Ampat memang sudah memiliki image di mata masyarakat Indonesia,
tetapi tingkat wisatawan domestik yang mengunjungi Raja Ampat masih sangat
kurang.
Hal
tersebut dipengaruhi oleh citra daerah Papua dimata orang luar Papua yang masih
serba tertinggal dari segala aspek. Sementara, dari Pemerintah Daerah sendiri
terus mengembangkan Kabupaten Raja Ampat dari sektor pariwisata dengan mulai
membuka spot-spot baru untuk berwisata, mulai meningkatkan sarana prasaran
pendukung dari transportasi dan fasilitas umum lainnya. Hal ini membuktikan
bahwa pemerintah mulai meningkatkan kontribusi sektor pariwisata terhadap
sektor ekonomi daerah maupun negara.
Dari
latar belakang tersebut, Raja Ampat membentuk identitas sebagai The Real
Paradise dengan dasar pemahaman sebagai Last Paradise, untuk membangun citra
yang baik dimata masyarakat Indonesia. Perancangan ini dilaksanakan melalui
sarana media cetak dan diberatkan pada sarana internet, dikarenakan hasil
survey menunjukkan bahwa target dengan umur 20-30 tahun masih merupakan
pengguna aktif media internet dalam mencari informasi. Dari hal ini, dibuatlah
media utama berupa mobile application yang berfungsi sebagai tour guide bagi
target sasaran.
Mobile application ini
akan memberikan informasi yang dibutuhkan tentang Raja Ampat, dengan adanya
mobile application ini target dapat mempersiapkan diri untuk berkunjung ke Raja
Ampat. Perancangan ini menggunakan strategi promosi AISAS dengan menggunakan
media yang disesuaikan dengan target. Oleh sebab itu, rancangan city branding
ini mampu memunculkan citra positif dari Kabupaten Raja Ampat dan dapat meningkatkan
minat wisatawan domestik untuk berkunjung ke Kabupaten Raja Ampat.
Tidak
hanya itu saja, dampak rancangan ini akan menjadi pelopor strategi komunikasi
visual di daerah Papua. Rancangan ini akan menjadi contohbagi kota-kota lain di
daerah Papua untuk meningkatkan kesejahteraan warganya melalui potensi
daerahnya.
Saran
yang diharapkan dapat terjadi pada perancangan city branding Kabupaten Raja
Ampat ini antara lain :
a. Diharapkan
dukungan pemerintah setempat agar terwujudnya tujuan sesuai harapan.
b. Dengan
perancangan ini diharapkan juga tetap konsisten dalam menjaga citra daerah
Papua.
c. Tetap
memaksimalkan atau mengembangkan SDM setempat agar dapat semakin
mensejahterakan masyarakat setempat secara mandiri melalui potensi daerah yang
dimiliki.
d. Pengelolaan yang semakin baik agar dapat memberikan kenyamanan berwisata bagi para wisatawan baik domestik maupun internasional.
Admin
Nasional, “Akses Jalan Menuju Wisata Mandeh Sumatera Barat Semakin Terbuka
Lebar”, Arsip, (Pesisir Selatan: Kantor Wali Nagari Sungai Pinang, 2019). BPS.
2019. Kecamatan Koto XI Tarusan dalam angka 2018. Painan: BPS Pesisir Selatan.
BPS. 2020. Kecamatan Koto XI Tarusan dalam Angka 2019. Tarusan: BPS Pesisir
Selatan. BPS. 2020. “Profil Nagari Sungai Pinang tahun 2019”. Pemda Sumatera
Barat. 2018. “Peraturan Daerah No 2 Tahun 2018 tentang Rencana Zonasi Wilayah
Pesisirdan Pulau-Pulau Kecil Provinsi Sumatera Barat Tahun 2018-2038”. Pesisir
Selatan: Arsip Kantor Bupati Pesisir Selatan.
Amri
Marzali. 1997. Metode Etnografi. Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya. Bengen, D.G.
2010. Ekosistem dan Sumber Daya Pesisir dan Laut serta Pengelolaan secara
terpadu dan berkelanjutan. Bogor: Pusat kajian Sumber Daya Pesisir dan Lautan
Fpik IPB. Damanik, dkk. 2006. Perencanaan Ekowisata: Dari Teori ke Aplikasi.
Yogyakarta: Pusat Studi Pariwisata dan Penerbit Andi. Gottschalk, Louis. 1986.
Mengerti Sejarah, terjemahan, Nugroho Notosusanto. Jakarta: UI Press.
Penulis :
Nama : LUCKY AMOS. R. O. SATIA
NIT : 202312012
Program studi : Manajemen Logistik Angkatan 2023
Akademi Pelayaran Nasional Surakarta



Komentar
Posting Komentar