MUSEUM MANUSIA PURBA TERBESAR DI INDONESIA

Museum manusia purba terbesar termegah

Di Indonesia


ARTIKEL PENELITIAN

 

Diajukan Kepada Akademi Pelayaran Nasional Surakarta Untuk Memenuhi Sebagian
 Persyaratan Akhir Semester Mata Kuliah Bahasa Indonesia 

 


Disusun Oleh :

Syahril Arya Bimantara

Nit : 202312015


Program studi

Manajemen logistik

Akademi pelayaran nasional 

Surakarta

2023


   Salam sejahtera untuk kita semua, Puji dan syukur penulis haturkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah menyelesaikan tulisan berjudul "Museum Manusia Purba Terbesar Termegah Di Indonesia".

Penulis atas naa Syahril Arya Bimantara dengan nomor induk taruna 202312015, Penulis dari kelas 1C Prodi Manajemen Logistik, lahir pada tanggal 3 April 2005 di Boyolali. Penulis adalah seorang taruna tingkat satu di Akademi Pelayaran Nasional Surakarta dan berasal dari  Bendo, Nogosari, Boyolali. 

Sesuai dengan judul penulis ingin memberitahukan tentang sejarah situs peninggalan manusia purba beserta peninggalan-peninggalan yang berada di Museum Sangiran, sehingga bisa untuk dijadikan edukasi dan menambah wawasan. Akhir kata, mohon maaf jika ada kata yang kurang berkenan, penuis siap menerima kritikan dan saran sebagai motivasi untuk penulis kedepannya.

  

Kartasura,Oktober 2023

                                                                                                                            Penulis


BAB 1

PENDAHULUAN


1.1  Latar belakang masalah

        Museum adalah suatu tempat yang menyimpan benda-benda bersejarah yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan pembelajaran dan pariwisata.Menurut KBBI IV"Museum adalah gedung yang digunakan sebagai tempat untuk pameran tetap benda-benda yang patut mendapatkan perhatian umum seperti peninggalan sejarah seni dan ilmu dan juga menyimpan barang kuno-kuno". Pemanfaatan museum bagi masyarakat masih berkurang kemungkinan dikarenakan pemahaman masyarakat tentang museum sebagai tempat penyimpanan benda-benda kuno dan menyeramkan mungkin menjadi suatu alasan kurangnya apresiasi masyarakat terhadap fungsi museum.Ketika ditelaah lebih lanjut maka museum cukup signifikan dalam penyumbangan wawasan dan pengetahuan.


1.2   Identifikasi Masalah

 Berdasarkan latar belakang diatas dapat diidentifikasi masalah

sebagai berikut:

1.     Pemahaman masyarakat tentang museum masih berkurang.

2.     Beberapa pengunjung merasa bosan saat mendatangi museum.

3.     Pengunjung lupa akan ilmu yang ada didalam museum setelah keluar dari museum.


1.3  Pembatasan Masalah

      Museum manusia purba sangiran sendiri juga disebut museum situs, yaitu museum yang didirikan sebagai sarana untuk mengkomunikasikan sejarah, upaya pelestarian arkeologi,dan nilai penting dari situs sangiran kepada publik.


1.4  Rumusan Masalah

     Berdasarkan latar belakang diatas penulis merumuskan permasalahan sebagai berikut:

1.Bagaimana cara yang dapat dilakukan untuk kampanye pariwisata diwilayah kabupaten sragen dan sekitarnya.

2.Bagaimana sejarah terbentuknya museum sangiran

3.Bagaimana pemeliharaan dan pelestarian benda-benda yang terdapat di museum sangiran.


1.5   Tujuan Penelitian

1.Untuk mempromosikan wisata edukasi di wilayah yah kabupaten sragen dan sekitarnya.

2.Untuk mengetahui sejarah terbentuknya museum sangiran.

3.Untuk mengetahui cara bagaimana pemeliharaan dan pelestarian benda-benda yang terdapat di museum.


1.6  Manfaat Penelitian

1.     Dari segi praktis

Memberi saran yang bermanfaat dan bahan pertimbangan bagi Balai pelestarian situs manusia purba dalam menjalankan kampanye.

2.  Dari segi akademis

Diharapkan hasil penelitian ini menjadi sumbangan ilmu pada umumnya.


BAB II

LANDASAN TEORI


2.1  Kajian teori

    Penelitian ini menggunakan beberapa kajian teori tentang upaya pelestarian seni budaya majapahit, berikut adalah beberapa teori yang peneliti temukan yaitu, Keberadaan situs-situs warisan budaya (cultural heritage sites) sangat rentan terhadap berbagai macam ancaman, diantaranya arus urbanisasi, pertumbuhan jumlah penduduk, polusi, iklim dan cuaca, dan pemanfaatan oleh masyarakat sebagai daerah tujuan wisata. Oleh karena itu, diperlukan usaha perlindungan (protection) dan pemeliharaan (preservation) terhadap situs-situs warisan budaya tersebut (A. L. Saputra dan Nugraha 2019)

Pendidikan dan kebudayaan sangat penting dalam kehidupan sehari-hari, karena kebudayaan merupakan satu kesatuan yang utuh, bersifat global, yang berlaku pada suatu masyarakat, dan pendidikan merupakan kebutuhan pokok setiap orang dalam masyarakat. Kebudayaan dalah sekelompok orang dalam lingkaran nilai dan ideologi bersama lingkungan dan waktu tertentu. Budaya itu sendiri dapat berubah sebagai timbal balik terhadap perubahan suasana hati masyarakat tersebut (Vita Octavian Anggraeni 2020)

Kawasan cagar budaya pada dasarnya memiliki karakteris tersendiri yang berpotensi menjadi keunggulan. Namun apabila  tidak dikelola secara kreatif dan terintegrasi, dapat berubah menjadi sumber bencana. Upaya-upaya pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan perlu dilakukan dengan menyiapkan konsep dasarnya dalam bentuk masterplan dan dokumen implementasi secara rinci. Kekurangcermatan dalam memahami permasalahan dan dalam menganalisis kondisi yang ada dapat mengakibatkan upaya pelestarian tidak memberikan hasil yang memuaskan. Mengingat kawasan cagar budaya di Indonesia sangat bervariasi, maka pengelolaannya perlu strategi menyeluruh dengan memperhatikan kan keunggulan dan keunikan masing-masing (Rahardjo 2013).


2.2   Penelitian Terdahulu

Berikut merupakan penelitian penelitian terdalu yang akan menjadi acuan peneliti :

  1. (Slamet,dkk 2018) Yang berjudul “Strategi Pelestarian Situs Sangiran sebagai Cagar Budaya” Hasil penelitian menunjukan bahwa strategi yang dilakukan BPSMPS untuk melestarikan Situs Manusia Purba Sangiran Sebagai Situs Warisan Dunia dilakukan dengan melibatkan partisipasi masyarakat Desa Krikilan dan pemberian reward serta sertifikat kepada masyarakat yang menyerahkan hasil temuan fosil. Adapun bentuk partisipasi masyarakat dalam proses pelestarian diantaranya; melibatkan masyarakat sebagai teknolok dalam proses penggalian fosil, membuka lapangan pekerjaan di area Museum Sangiran untuk menyerap tenaga kerja masyarakat sekitar dan meningkatkan pengawasan penemuan fosil, melibatkan Kelompok Teater Sangir dalam misi pengenalan pariwisata Museum Sangiran dan memberikan pelatihan kerajinan souvenir, pelatihan manajemen homestay dan pelatihan menjadi tourguide.
  2. (A.Syaputra,dkk 2016) Yang berjudul “persepsi mahasiswa calon guru tentang pemanfaatan situs sangiran sebagai sumber belajar evolusi” melaksanakan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) di Situs Sangiran. Hasil analisis laporan kunjungan di Situs Sangiran menunjukkan bahwa 80% mahasiswa memahami isi dari situs Sangiran beserta sejarahnya. Persepsi mahasiswa tentang pemanfaatan Situs Sangiran sebagai sumber belajar evolusi bervariasi antara lain: (1) 80% mahasiswa menyatakan bahwa Situs Sangiran memberikan gambaran nyata sejarah penemuan fosil manusia purba di Jawa beserta stratigrafinya sehingga memperjelas apa yang diperoleh pada perkuliahan di kelas; (2) 70% mahasiswa menyatakan bahwa Situs Sangiran merupakan laboratorium manusia purba yang dapat dijadikan sebagai sumber belajar evolusi secara langsung sehingga pembelajaran materi Evolusi menjadi lebih bermakna; serta (3) 80% mahasiswa berpendapat bahwa pembelajaran Evolusi dengan kunjungan langsung ke situs Sangiran merupakan pembelajaran kontekstual yang dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap proses evolusi.
  3. (Sutrima et al. 2014)  yang berjudul “evaluasi penggunaan aplikasi museum sangiran berbasis augmented realitydalam menarik minat pengunjung”Penelitian yang dilakukan telah menghasilkan aplikasi Augmented reality Museum Sangiran yang mengemas digitalisasi benda purbakala dalam bentuk 3D. Aplikasi mampu melakukan tracking marker dalam jarak terpendek 30 cm dengan sudut kemiringan minimal 20o dan jarak terpanjang 50 cm dengan sudut kemiringan minimal 50o. Hasil analisis validitas dan realibilitas menghasilkan alpha cronbach 0,87 sehingga semua butir pertanyaan dinyatakan valid dan reliable. Tanggapan


2.3  Kerangka Penelitian

 

Gambar 2.3 Diagram kerangka berpikir



BAB III

Metode penelitian


3.1  Jenis penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif yaitu metode penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi objek yang alamiah sebagai lawannya adalah eksperimen kunci dengan analisis data bersifat induktif dan hasil penelitian lebih menekankan makna dari pada generalisasi yaitu proses penalaran yang bertolak dari individu menuju kumpulan umum.


3.2  Setting Penelitian

1.     Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian dilakukan di situs sejarah mojopahit yang ada di Kalijambe, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, Indonesia

2.     Waktu Penelitian

waktu penelitian ini berlangsung pada 10 Januari 2022. Penelitian dilakukan setelah persetujuan judul karya ilmiah.


3.3  Subyek dan Informasi Penelitian

3.3.1         Penelitian ini akan berfokus untuk meningkatkan pengunjung, bagaimna sejarah museum sangiran, dan bagaimana cara melestarikan benda benda yang ada di museum.

3.3.2         Yang menjadi subjek dalam hal ini adalah penanggung jawab museum Sangiran


3.4  Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dibagi menjadi 2 proses. Proses pertama dilakukan pengumpulan data dengan  cara wawancara yang dilakukan oleh peneliti dengan penanggung jawab museum. Teknik pengumpulan data kedua dilakukan dengan cara observasi dengan mengambil data data yang ada di internet dan jurnal jurnal yang masih relevan.


3.5  Teknik Keabsahan Data

Dalam penelitian pemeriksaan keabsahan data sangat diperlukan dalam penelitian kualitatif demi keaslian dan kendalan serta tingkat kepercayaan data yang telah terkumpul. Teknik keabsahan data adalah dengan menggunakan teknik triangulasi. Hal ini merupakan salah satu pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data. Dengan menggunakan teknik pemeriksaan triangulasi sumber, peneliti mengumpulkan data dengan wawancara yang dilakukan terhadap pemilik penanggung jawab museum.


3.6  Teknik Analis Data

Pada penelitian kuantitatif biasanya kalian akan menggunakan uji statistik. Terdapat dua macam uji statistik yang dapat kalian digunakan untuk menganalisa data, yakni statistik deskriptif dan statistik inferensial. Kemudian pada statistik inferensial terdapat statistik parametris dan statistik nonparametris. 

1.     . Mengidentifikasi ada tidaknya data yang kosong (missing) sehingga dapat diambil tindakan selanjutnya. Tindakan tersebut antara lain dilakukan pengumpulan data kembali untuk melengkapi data yang kosong, atau melakukan penyesuaian terhadap sampel yang kurang, atau melakukan penyesuaian analisis jika data yang kosong tetap dilakukan pengujian

2.     Melakukan kodifikasi atau coding terhadap data yang telah dikumpulkan sesuai dengan Definisi Operasional yang telah ditetapkan.

3.     Menentukan limit (cut-off) hasil ukur jika peneliti tidak memiliki standar dalam mengkategorisasikan pengukuran. Biasanya dilakukan jika menggunakan data kategorik. Umumnya peneliti melakukan uji normalitas untuk menentukan mean atau median data sebagai cut-off point. Beberapa peneliti juga menentukan standar deviasi (2sd, 3sd) untuk menentukan batas atas dan batas bawah.

4.     Mengetahui adanya data pencilan (outlier) yang dapat mempengaruhi hasil analisis. Beberapa analisis statistik sangat sensitif terhadap data-data yang jauh nilai tengah sehingga harus dilakukan uji outlier dengan metode tertentu.

5.     Melakukan uji asumsi statistik yang dibutuhkan sebagai persyaratan melakukan analisis


BAB  lV

PEMBAHASAN


4.1  Usaha untuk Meningkatkan Pengunjung Museum Sangiran

Minat masyarakat untuk mengunjungi museum sangat rendah. Bagi beberapa orang, museum adalah tempat yang membosankan. Sedikit sekali museum yang memiliki jumlah pengunjung yang banyak. Kita tidak bisa menyalahkan mereka karena ada beberapa museum yang memang belum bagus manajemennya. Untuk itu diperlukan cara untuk menarik pengunjung ke museum. Cara-cara tersebut adalah sebagai berikut:


4.1.1                 Mempromosikan museum

Promosi ini merupakan hal yang penting untuk mempromosikan museum. Mempromosikan museum bisa menggunakan beberapa cara. Cara yang pertama menggunakan leaflet, brosur, dan juga brosur. Cara yang kedua menggunakan internet. Kalangan muda sampai kalangan tua semuanya pasti tau internet. Kita bisa memanfaatkan hal itu untuk mempromosikan museum. Kita bisa membuat social media lalu mempromosikan museum menggunakan social media tersebut. Kita juga bisa membuat komunitas museum menggunakan internet untuk mempromosikan museum. Berbeda dengan cara yang pertama, cara yang kedua ini lebih murah biaya. Jadi kita bisa menghemat biaya untuk promosi museum.

Sebaiknya museum terlebih dahulu mempromosikan kepada masyarakat lokal, lalu jika sudah dipromosikan ke masyarakat lokal, dipromosikan ke masyarakat luar.


4.1.2                 Menambah fasilitas yang ada di museum

Banyak museum belum memiliki fasilitas-fasilitas yang memadai. Salah satu contohnya adalah sedikitnya guide yang ada di museum. Padahal guide adalah salah satu komponen yang penting yang harus ada dalam museum. Jika hanya ada sedikit guide, pengunjung akan kesulitan dalam mendapatkan informasi tentang barang-barang yang ada di museum. Guide juga harus berpengalaman dan mengerti betul tentang barang yang ada di museum.

Bisa juga menambahkan kafe di museum. Kebanyakan museum tidak memiliki kafe. Untuk membeli makanan dan minuman, pengunjung harus keluar dari museum. Jika ada kafe di dalam museum, pengunjung tidak harus repot-repot keluar dari museum untuk membeli makanan dan minuman.

Banyak museum belum memiliki teknologi yang memadai. Museum bisa menggunakan komputer untuk menjelaskan hal-hal tentang barang yang ada di museum tersebut. Seperti yang ada di Museum UGM. Museum bisa menambahkan fasilitas Wi-Fi di museum agar pengunjung bisa mengakses internet ketika berada di museum. Museum bisa juga menambahkan suara musik agar museum tidak terkesan sepi dan membosankan.


4.1.3                 Mengadakan event-event

Museum bisa mengadakan kegiatan-kegiatan untuk menarik pengunjung. Museum bisa mengadakan lomba-lomba yang ditujukan untuk kalangan tertentu. Bisa juga museum mengadakan gerak jalan. Kegiatan ini bisa sekaligus sebagai promosi bagi masyarakat.


4.2  Sejarah Tentang Museum Sangiran

Sangiran adalah sebuah situs purbakala yangmempunyai banyak sejarah-sejarah kehidupan pada jaman lebih dari 2 juta tahun yang lalu. Secara stratigrafis situs purbakala Sangiran merupakan situs manusia purba yang terlengkap di Asia yang kehidupannya dapat dilihat secara berurutan tanpa terputus sejak 2 juta tahun yang lalu yaitu sejak kala Pliosen Akhir hingga akhir Pleistosen Tengah . Hal yang sangat menarik adalah berdasarkan penelitian bahwa manusia purba jenis Homo Erectus yang ditemukan di wilayah Sangiran sekitar lebih dari 100 individu yang mengalami masa evolusi tidak kurang dari 1 juta tahun. Dan ternyata jumlah ini mewakili 65% dari seluruh fosil manusia purba yang ditemukan di Indonesia dan merupakan 50% dari jumlah fosil sejenis yang ditemukan di dunia. Keberadaan peninggalan bersejarah benda purbakala di Museum Sangiran semakin lama termakan waktu semakin tidak terawat dan mengalami kepunahan. Upaya pelestarian sudah dilakukan tetapi masih dalam media cetak atau dalam bentuk gambar, dan untuk mengakses informasi tersebut masyarakat harus datang ke lokasi. Alternatif supaya peninggalan manusia purba di Museum Sangiran dapat dikenal masyarakat yaitu perlu konsep digitalisasi objek purbakala yang efisien dan efektif sehingga masyarakat dapat melihat replikanya secara langsung tanpa harus datang ke lokasi Museum.


4.3  Memelihara dan Pelestarian Benda benda yang ada di museum Sangiran

Upaya pelestarian peninggalan bersejarah dapat dilakukan sesuai dengan bentuk dan jenis peninggalan bersejarah. Contoh cara melestarikan bentuk peninggalan bangunan adalah:

1.     Menjaga kebersihan di dalam dan di luar bangunan

2.     Menjaga dan merawat peninggalan berupa peralatan dan perlengkapan

3.     Mencegah dari kerusakan-kerusakan karena alam atau tangan manusia

4.     Mengadakan acara secara rutin oleh pemerintah setempat

5.     Menjadikan acara kebanggaan masyarakat setempat

6.     Menjadikan ikon wisata untuk menarik wisatawan

7.     Mempromosikan kesenian Memasukkan ke dalam mata pelajaran kesenian di sekolah setempat

8.     Mengadakan festival atau lomba Membina kelompok kesenian

9.     Mengabadikan kesenian dalam bentuk buku atau rekaman


BAB V

Penutup

5.1  Kesimpulan

Sangiran adalah sebuah situs purbakala yang mempunyai banyak sejarah-sejarah kehidupan pada jaman lebih dari 2 juta tahun yang lalu. Secara stratigrafis situs purbakala Sangiran merupakan situs manusia purba yang terlengkap di Asia yang kehidupannya dapat dilihat secara berurutan tanpa terputus sejak 2 juta tahun yang lalu yaitu sejak kala Pliosen Akhir hingga akhir Pleistosen Tengah. Minat masyarakat untuk mengunjungi museum sangat rendah. Bagi beberapa orang, museum adalah tempat yang membosankan. Sedikit sekali museum yang memiliki jumlah pengunjung yang banyak. Kita tidak bisa menyalahkan mereka karena ada beberapa museum yang memang belum bagus manajemennya. Maka dari itu dibutuhkan upaya upaya untuk melestarikan agar banyak pengunjung yang datang ke museum.


5.2  Saran

Pelestarian benda benda museum sangat Penting untuk terus melestarikan dan mempromosikan Museum Sangiranagar tidak hilang dalam arus globalisasi. Ini bisa dilakukan melalui pelatihan generasi muda dalam mengetahui situs purbakala yang mempunyai banyak sejarah-sejarah kehidupan .


Daftar pustaka

 

Kusmartanti,dkk.(2018). “Strategi Pelestarian Situs Sangiran sebagai Cagar Budaya.” Prosiding University Research Colloquium.

Rahardjo, Supratikno.(2013). “Beberapa Permasalahan Pelestarian Kawasan Cagar Budaya Dan Strategi Solusinya.” Jurnal Konservasi Cagar Budaya/jurnalkonservasicagarbudaya.v7i2.109.

Saputra, Alanindra,dkk.2016). “Persepsi Mahasiswa Calon Guru Tentang Pemanfaatan Situs.” Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Sains (SNPS)

 Saputra,dkk.(2019). “Pemanfaatan Augmented Reality Sebagai Media Promosi Pada Katalog Menu Produk Ice Cream Arlecchino Gelato Berbasis Android.” Information Technology Journal.

Sutrima,dkk.(2014). “Evaluasi Penggunaan Aplikasi Museum Sangiran Berbasis Augmented Reality Dalam Menarik Minat Pengunjung.” Seminar Nasional Teknologi Informasi dan Multimedia 2014, 1.14-7-1.14-12.

Vita Octavian Anggraeni, Handayani.(2020). “Perancangan buku informasi situs candi majapahit di trowulan” 3 (01): 35–44.



Penulis :

Nama : SYAHRIL ARYA BIMANTARA

NIT : 202312015

Program studi : Manajemen Logistik Angkatan 2023 

Akademi Pelayaran Nasional Surakarta


Komentar

Postingan populer dari blog ini

KEUNIKAN DAN KEARIFAN DANAU SENTANI DI JAYAPURA

KEUNIKAN PULAU KOMODO DI LABUAN BAJO NUSA TENGGARA TIMUR

KEUNIKAN TENUN RAGI WO’I KHAS NAGEKEO DAERAH NUSA TENGGARA TIMUR

TARIAN INDAH KABUPATEN SIKKA, MAUMERE, NTT